Wednesday, 30 December 2015

#3

Sekarang malah semakin rumit. Bukan hanya soal rumah yang sedang aku urusi tetapi juga tetangga yang seakan memata-mata. Aku ini siapa, harus bagaimana dan lainnya.
Kemarin, seseorang mengingatkanku tetang hakikat kehidupan. Bahwasanya hidup ini bukan tentang bagaimana orang lain yang kita lihat lebih, tapi hidup adalah tentang bagaimana kita seharusnya. Ya, bagaimana seharusnya aku?

Amel, Pondok Labu
30 Desember 2015

Friday, 18 December 2015

#2

Maaf aku lupa kalau rumahku masih berantakan. Maukah kau kembali keluar, segera? Maaf... Oiya, dan aku tidak memintamu berdiam diri di depan pintu. Carilah kebahagiaanmu dulu. Aku mengerti kamu.

Kembalilah jika dan hanya jika kau ingin kembali dan tak akan pergi lagi. Aku tidak pernah mengunci rumahku, tidak pula melarang siapa pun untuk masuk. Tapi sejujurnya, bukan seperti ini yang kuinginkan. Maafkan kelalaianku kemarin, kuharap kamu mengerti.

Amel, Pondok Labu
18 Desember 2015

Rumah #1

#1

Rumahku selalu terbuka untuk siapapun. Siapa saja, kapan saja mau datang, silahkan. Tapi maaf-maaf saja keadaannya masih seperti ini. Jadi ya, kalau masuk kemudian tidak betah, siahkan keluar lagi, gapapa. Tapi, dengan cara yang kuharap cukup sopan sebagai seorang tamu. Aku tidak mempunyai banyak waktu luang. Mencoba menyibukkan diri membenahi rumah ini. Agar orang yang nanti datang di waktu dan kondisi yang tepat jadi nyaman dan tidak ingin keluar lagi. Biar nanti orang itu yang akan negembok rumah ini dari dalem, dan biarkan saja ia yang menyimpan kunci gemboknya. Dimana aja, terserah dia, aku tidak peduli. Yang penting aku percaya, dia ngga akan keluar rumah karena kita sama-sama udah nyaman. Ya, suatu hari nanti.

Amel, Pondok Labu
2 Desember 2015

Seharusnya...

Seharusnya kamu sudah sampai Memarkirkan motormu di halaman depan Mengetuk pintu lalu duduk santai di ruang tamu Seharusnya kamu sudah ...