Monday, 28 May 2012

Cahaya Lilin dan Bara Api


Cahaya lilin takkan dihiraukan saat lampu menyala, namun begitu diharapkan saat semua listrik padam. Di ruang yang gelap ini, ku nyalakan lilin ku. Cahayanya kecil, namun menyebar sempurna saat beraksi seorang diri.

Lilin pun akan habis pada kalanya. Melebur perlahan hingga titik akhirnya sang cahaya tak akan bisa menyala lagi. Menunggu lilin itu mati sepenuhnya tidaklah cepat, aku pun meniup lilin itu. Mati.

Rasa ini ku ingin seperti lilin itu. Nyatanya tidak, bagaikan bara api yang menyala, semakin kutiup api itu menjadi semakin besar.

Lilin itu masih ada. Sumbunya masih utuh. Masih bisa menyala lagi.

Ingin kunyalakan kembali liin ini untuk ruangan lain.Yang akan menyambarkan lilinku pada baranya. Bara api yang akan terus menyala, dan akan tetap memberikan kehangatan saat Ia padam.

Tuesday, May 22 2012
19:09:50

No comments:

Post a Comment

Seharusnya...

Seharusnya kamu sudah sampai Memarkirkan motormu di halaman depan Mengetuk pintu lalu duduk santai di ruang tamu Seharusnya kamu sudah ...